Oleh Jupiter Sitorus Pane
Sering kali, berpolitik dipandang sebagai arena persaingan keras yang mengharuskan kita mengalahkan lawan secara telak. Ini yang sering terkesan di dalam praktek sehari-hari. Saya pribadi bukanlah orang politik karena sesungguhnya saya lebih tepat dikatakan seorang pemerhati yang berlatar belakang peneliti iptek, namun tergerak untuk memperhatikan politik yang terjadi di masyarakat akhir-akhir ini.
Manuver politik untuk merebut hati masyarakat sering kali melibatkan serangan pribadi atau pembunuhan karakter. Ini bukan hal yang mengherankan, mengingat banyak politikus yang merasa bahwa kemenangan dalam politik adalah segala-galanya. Namun, seharusnya berpolitik bukanlah tentang kekerasan atau menjatuhkan lawan, melainkan tentang kegembiraan dalam membangun kebijakan yang dapat membawa perubahan positif bagi masyarakat dan negara.
Berpolitik dengan hati yang gembira adalah tentang menyusun kebijakan yang bertujuan untuk memajukan kesejahteraan masyarakat, bukan untuk meraih kemenangan pribadi. Ini adalah tentang menciptakan peluang bagi rakyat, meningkatkan kualitas hidup mereka, dan memajukan negara. Politik seharusnya menjadi alat untuk “bersama semua orang” mewujudkan kemajuan negara, bukan untuk merusak atau saling menjatuhkan.
Dalam hal ini, kita bisa melihat contoh negara-negara yang merdeka setelah tahun 1945 dan memiliki pendapatan per kapita di atas USD 23.000, seperti Singapura, Korea Selatan, Taiwan, Israel, dan Hong Kong. Negara-negara ini berhasil meraih kemajuan pesat dengan memanfaatkan potensi “sumber daya manusia” dan “kebijakan” yang mendukung pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, Indonesia dengan sumber daya alam (SDA) yang melimpah dan sumber daya manusia (SDM) jauh melebihi negara-negara yang disebut di atas hanya memiliki pendapatan per kapita sekitar USD 5.000. Perbedaan pendapatan ini jelas-jelas menunjukkan adanya kesenjangan dalam efektivitas pengelolaan dan implementasi kebijakan.
Lantas, di mana letak kesalahannya? Kenapa Indonesia belum dapat masuk kategori negara-negara dengan pendapatan yang sejajar dengan negara maju. Salah satu faktor penyebabnya adalah sikap politik dengan manuver-manuver yang hanya bertujuan untuk menghancurkan lawan politik seperti yang kita lihat akhir-akhir ini. Munculnya hoaks, fitnah, tuntut menuntut ke pengadilan untuk perkara-perkara yang tidak relevan dengan pembangunan, merendahkan satu sama lain atas nama kebenaran, dominasi mayoritas versus minoritas dan lain-lain.
Oleh sebabitu untuk solusi yang lebih baik adalah menerapkan politik yang lebih fokus pada kebijakan yang memajukan masyarakat. Hanya dengan politik yang digerakkan oleh hati yang gembira, kita bisa membawa Indonesia menuju kemajuan yang sesungguhnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar